Teori Komunikasi
5 mnt baca • 14 pembaca

15 Teori Komunikasi Politik

Wardoyo, S.I.Kom.
Wardoyo, S.I.Kom. Ketua PWI Kabupaten Banyuasin - Periode 2025–2028
Sabtu, 02 April 2022

 

Menurut Para Ahli dan Penjelasannya. Komunikasi Politik adalah bentuk komunikasi, dalam hal ini berupa pemberian pesan/ informasi yang terjadi dalam sistem politik. Sistem politik berkaitan dengan kekuasaan politik negara, aktivitas komunikasi para pelaku kegiatan politik, termasuk juga komunikasi pemerintahan.

Beberapa teori-teori dasar dalam komunikasi politik, banyak bersentuhan dengan penggunaan media dan audience. Diantara

1.Teori Jarum Suntik

Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) yang disebut juga teori peluru atau teori sabuk transmisi. Teori ini berpendapat bahwa seluruh pesan politik yang disampaikan kepada masyarakat (terutama) melalui media massa pasti mempengaruhi pembacanya dan memberikan efek positif.

Pembaca dianggap tidak berdaya dan secara pasif akan menerima informasi tersebut. Jika menurut media benar, pasti benar atau semacamnya. Salah satu contoh pengaplikasian teori ini adalah politik pencitraan

2. Teori Kepala Batu

Teori kepala batu (Obstinate Audience Theory) menolak teori jarum suntik. Teori kepala batu berpendapat bahwa masyarakat tidak pasif menerima informasi dan mampu melawan media. Masyarakat memiliki kemampuan untuk memilih akan menyerap atau menangkal semua informasi yang ditujukan kepada mereka. Komunikasi merupakan sebuah transaksi. Informasi yang diterima akan diseleksi oleh filter konseptual, mana yang perlu dan mana yang tidak.

3.Teori Empati Dan Teori Homofili

Teori Empati dan Teori Homofili berpendapat bahwa komunikasi yang ‘berempati’ serta dibangun atas ‘kesamaan’ (homofili) akan jauh lebih berpengaruh dan efektif. Proses ‘empati’ dilakukan pembicara dengan cara menyelami jalan pikiran target penerima informasi yang disampaikannya. Sedangkan homofili dilakukan misalnya dengan melakukan pemberian informasi kepada massa yang memiliki kesamaan usia, ras, agama, ideology, pandangan politik, dan sebagainya

4. Teori Kebutuhan

Menurut Teori kebutuhan, manusia memiliki tingkatan kebutuhan psikologis, kasih sayang, rasa aman, penghargaan dan aktualilasi diri yang harus dipenuhi. Kebutuhan tersebut bergantung pada kepribadian yang diperoleh orang tersebut sedari usia dini. Manusia cenderung mendahulukan terpenuhinya kebutuhan pokok baik secara fisik maupun sosial. Baru setelah itu, ketika kebutuhan pokok telah terpenuhi, manusia akan berbalik pada politik.

  1. Teori Kegunaan Dan Kepuasan

Teori kegunaan dan kepuasan (Uses And Gratification Theory) menitik beratkan perilaku individu dalam menggunakan media untuk mendapatkan kepuasan atas kebutuhan. Penentu pemilihan pesan dan media berdasarkan teori ini adalah sikap dan perilaku masyarakat. Apa yang dilakukan orang terhadap media, bagaimana cara mereka menggunakan media untuk mencari informasi , bagaimana selera masyarakat, dll.

  1. Teori Psikoanalitik

Teori psikoanalitik berpendapat bahwa kepribadian seseorang sangat berpengaruh terhadap prilaku dan pembelajaran politik orang tersebut. Ada dua variasi dalam teori ini yaitu personal dan intrapersonal. Personal menekankan pada kepribadian dalam diri, bahwa manusia bertindak berdasarkan motif dalam pikiran sadar dan bawah sadarnya. Sedangkan intrapersonal menekankan pada pandangan bahwa manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan dalam berhubungan dengan orang lain.

  1. Teori Sifat

Teori sifat mengemukakan bahwa setiap manusia memilki sifat yang unik dan berbeda satu dengan lainnya, dan politik merupakan refleksi dari sifat individu tersebut. Setiap orang dapat dibedakan dan dibandingkan berdasarkan skala sifat mereka. Fokus teori ini adalah kecenderungan (berdasarkan sifat) yang menentukan prilaku seseorang.(baca: sistem komunikasi indonesia)

  1. Teori Tipe

Pada teori tipe, manusia diklasifikasikan kedalam beberapa kategori berdasarkan karakteristik dominan yang ada pada dirinya. Mirip seperti teori Sifat, teori Tipe juga membahas mengenai prilaku individu, namun fokus teori Tipe adalah konfigurasi perilaku individu, yang membedakannya dengan individu lainnya.

Dalam teori ini, ada lima tipe golongan yang dikelompokkan berdasarkan pengaruh orang tua, yaitu golongan inaktif, konvensionalis, konstruktivis, aktivis, dan penyingkir atau disenter.

9. Teori Fenomenologis

Teori Fenomenologis berpendapat bahwa peran kepribadian politik seseorang akan lebih dapat dipahami dengan melukiskan peranan langsung orang tersebut. Fokus penelitian adalah mengenai bagaimana seseorang menanggapi suatu objek berdasarkan cara seseorang mengalami dunia secara subjektif (perasaan, sensasi, fantasi)

10. Teori Lingkar Kesunyian

Teori lingkar kesunyian (Spiral Of Silence Theory) mengemukakan bahwa dibalik kekuatan media yang dapat menciptakan opini public, akan memunculkan opini yang tidak sejalan dengan opini public tersebut; opini yang berkembang secara tersembunyi dan bersifat laten. Opini tersebut berkembang dalam lingkar keheningan, di tingkat bawah yang tak terlihat dari permukaan.

11. Teori Penanaman (Cultivation Theory)

Teori penanaman mengemukakan tentang kehebatan media, terutama televisi dalam menanamkan sesuatu dalam jiwa penonton, yang akan berimbas pada sikap dan perilaku orang tersebut. Misalnya berita tentang penculikan dan mutilasi organ anak yang terus- menerus dilihat oleh seorang ibu bisa membuat ibu tersebut menjadi overprotektif terhadap anak, hingga tidak memperbolehkan anaknya bermain keluar karena takut jika anaknya diculik.

Implementasi teori ini banyak juga dilakukan dalam politik, misalnya dengan memunculkan tayangan pasangan calon kepala daerah yang dikerumuni banyak pendukungnya atau semacamnya di televisi. Namun yang sangat disesalkan adalah jika tayangan tersebut

bersifat hoax atau penipuan publik, sehingga menanamkan persepsi yang salah pada penonton, hal tersebut juga melanggar hukum (baca: etika komunikasi).

12. Teori Media Kritis

Dalam teori Media Kritis dikemukakan bahwa fungsi media massa dalam masyarat banyak dipengaruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah masyarakat. Fokus teori Media Kritis adalah konteks masyarakat, fungsi apa saja yang seharusnya dilakukan media massa dalam masyarakat (baca juga: komunikasi yang efektif)

13. Teori Informasi dan Nonverbal

Teori Informasi dan Nonverbal mengemukakan bahwa bertindak sama dengan berkomunikasi. Dalam hal politik, melakukan tindakan politik sama dengan melakukan komunikasi politik. Tindakan dalam komunikasi politik dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh masyarakat yang melihatnya. Pola tindakan itulah yang kemudian dipelajari sebagai pedoman untuk menentukan tindakan komunikasi politik yang dilakukan. Pola tersebut dijadikan sebagai prediksi reaksi yang terjadi kedepannya

14. Teori Adopsi

Fokus penelitian dalam teori Adopsi adalah perhatian manusia terhadap bagaimana pikiran, perasaan, gagasan, dan kecenderungan seseorang diperoleh. Perhatian tersebut diadopsi dengan cara belajar sosial. Contohnya untuk memperoleh reaksi yang diinginkan dan yang tidak dinginkan lawan politik dalam keadaan tertentu

15. Teori Perubahan

Teori Perubahan menekankan pada proses mental yang terlibat pada diri individu yang menerangkan perubahan yang terjadi pada pemikiran awal seseorang. Perubahan tersebut terjadi ketika seseorang melakukan belajar sosial. Teori belajar sosial merupakan teori mengenai bagaimana cara seseorang memperoleh kepercayaan, nilai, dll dari pengalamannya dengan orang, objek, atau peristiwa tertentu.

Bagikan Tulisan Ini:
Wardoyo, S.I.Kom.

Wardoyo, S.I.Kom.

Ketua PWI Kabupaten Banyuasin - Periode 2025–2028

SK PWI Pusat Nomor: 033/PP-PWI/XI/2025

Wartawan Utama Dewan Pers, Anggota DKP PWI Sumsel, dan pegiat advokasi jurnalisme di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Kompetensi Pers: UKW Utama Dewan Pers
Dewan Kehormatan: DKP PWI Sumatera Selatan
Lihat Semua 320 Tulisan

Tulisan Serupa (Teori Komunikasi)

Profil Penulis

Wardoyo, S.I.Kom. adalah Wartawan Tingkat Utama Dewan Pers dan Ketua PWI Banyuasin Periode 2025–2028. Seluruh tulisan ini merupakan arsip pemikiran dan dedikasi profesional.

Lihat Portofolio & Rekam Jejak

Kontak Pengurus PWI

Pilih kontak WhatsApp pengurus harian di bawah ini

Wardoyo, S.I.Kom
Wardoyo, S.I.Kom

KETUA PWI BANYUASIN

H. Gusra Yetri, SH
H. Gusra Yetri, SH

WAKIL KETUA PWI

Deni Arianto
Deni Arianto

SEKRETARIS PWI

Ridho Andi Sucipto, M.Pd
Ridho Andi Sucipto, M.Pd

BENDAHARA PWI