Agum Nilai Ada Konspirasi Politik dalam Pilkada DKI
Mantan Ketua KONI Agum Gumelar menilai ada konspirasi politik dalam Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) DKI Jakarta terutama dalam tahap penjaringan calon gubernur.
“Konspirasi ini yang melibatkan satu kekuatan yang berupaya mencegah seseorang calon untuk mendapatkan kendaraan politik,” katanya dalam acara seminar “Menuju Pilkada Jurdil Jakarta”, di Gedung IASTH, Kampus FHUI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (21/3).
Selain itu, Agum juga menduga ada kepentingan-kepentingan kekuasaan yang sangat menonjol pada proses penjaringan calon, terutama pada kasus yang menimpanya. “Saya maju karena permintaan resmi dari Ketua Umum Partai Demokrat, tapi akhirnya kejadiannya seperti ini. Saya khawatir ini awal dari ketidakadilan yang akan terjadi pada proses pilkada yang akan datang,” ujarnya.
Pensiunan jenderal berbintang empat itu menjelaskan, seharusnya partai politik dalam rekrutmen bisa berorientasi pada aspirasi rakyat, tidak justru bermanufer untuk menjegal calon lain dan menari-nari di atas kekuasaan.
“Tapi, mungkin itulah politik dan saya juga tahu, kita harus bersedia menerima konsekuensi jika bermain politik. Saya harus menerima konsekuensi ini,” katanya.
Agum kembali menegaskan, dirinya awalnya tidak berminat maju ke Pilkada Gubernur DKI Jakarta meski banyak pihak yang memintanya, namun ia akhirnya menyatakan kesediaannya ikut pilkada setelah Ketua Umum Partai Demokrat, Hadi Utomo, yang memintanya secara langsung.
“Pada Mei 2006 lalu, Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo mengundang bertemu dengan saya dan dalam pertemuan itu, ia mengatakan bahwa Partai Demokrat akan mengusung saya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta,” katanya.
Setelah ada permintaan Partai Demokrat itu, Agum mengatakan akan mendiskusikan dan meminta pendapat dengan keluarga.
“Kesimpulannya pihak keluarga menyatakan pengabdian tidak kenal batas waktu, sehingga saya menerima kehormatan itu dan saya menyatakan bersedia maju menjadi calon gubernur. Namun, dalam perjalannya, sampai pada deklarasi Partai Demokrat,” katanya.
Pekan lalu, koaliasi 16 partai politik, di antaranya Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Damai Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bintang Reformasi mendeklarasikan dukungan untuk mengusung Fauzi Bowo sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
Selain Fauzi Bowo, sampai saat ini ada juga calon gubernur lain yakni Adang Daradjatun yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera. [EL, Ant]