PKS Perlu Kapitalisasi Potensinya
Jakarta– Partai Keadilan Sejahtera atau PKS perlu mengapitalisasi potensi yang dimilikinya. Jika tidak, PKS akan selalu gagap dengan perkembangan politik dan kebangsaan yang makin kompleks. Itu sebabnya, PKS perlu mempertegas cita-citanya untuk menjadi partai dakwah, sekaligus sebagai partai modern.
Demikian Wakil Sekretaris Jenderal PKS Nurhasan Zaidi dalam diskusi terbatas menjelang Milad Ke-9 PKS di Jakarta, Senin (16/4). Milad PKS jatuh pada tanggal 20 April. “Partai yang kokoh cerminan dari partai modern, dan syarat untuk menuju partai modern bukan sekadar tampilan luarnya saja, tetapi yang lebih penting harus mampu menjawab persoalan kekinian yang semakin kompleks,” ujarnya.
Tahun ini, menurut Nurhasan, tantangan PKS semakin berat. Setelah sukses merealisasikan visi 2004, yaitu menjadi partai Islam yang berpengaruh di tingkat nasional, PKS dihadapkan lagi dengan tantangan menjadi partai dakwah yang kokoh untuk melayani dan memimpin bangsa.
“Tantangan ini yang tertuang dalam visi 2009 PKS meskipun penokohan PKS di tingkat nasional masih lemah. Dan, dari segi isu tema kebangsaan, PKS belum menjadi pembentuk opini,” ujarnya.
Wakil Sekjen PKS Fahry Hamzah menjelaskan, salah satu tantangan nyata PKS terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta. PKS dilabelisasi sebagai partai sektarian. PKS dianggap sebagai musuh ideologi sejumlah partai. “PKS dicap partai sektarian yang antinasionalis. Ini pandangan sempit. Bukankah kita semua telah sepakat bahwa Pancasila final sebagai ideologi negara dan otomatis menjadi ideologi semua ormas dan parpol,” ujarnya. Pelabelan ini, menurut Fahry, tak lebih dari upaya membelokkan persepsi masyarakat akan citra PKS yang bersih dan peduli menjadi kelompok Islam garis keras. Usaha ini jelas hendak membutakan masyarakat pada persoalan nyata yang dihadapi. (mam)