Opini & Catatan
5 mnt baca • 3 pembaca

Hanya Sedikit Pilihan Buat Adang

Wardoyo, S.I.Kom.
Wardoyo, S.I.Kom. Ketua PWI Kabupaten Banyuasin - Periode 2025–2028
Rabu, 11 April 2007

Berpolitik.com– Menurut survei terbaru Lembaga Survei Indonesia,faktor isu tentang kebijakan publik belum menjadi faktor dalam menentukan preferensi pemilih. Ini diperkuat dengan minimnya program-program alternatif yang diajukan calon pesaing Fauzi Bowo.

Secara alamiah, Fauzi dalam kapasitasnya sebagai wagub Jakarta tentu saja terdorong untuk meneruskan program-program pembangunan yang sudah dicanangkan saat ini. Kompetitor paling serius, Adang Daradjatun, juga sudah melansir posisi politiknya: sebagai pihak yang menawarkan perubahan. .

Berpolitik.com pernah mencoba menanyakan hal itu kepada Adang Daradjatun. Mulanya,ketika ditanya apa benar mau hendak mengusung agenda perubahan, Adang sembari tersenyum menjawab ya. Namun, tatkala ditanya agenda perubahan apa yang bakal diprioritaskannya, jawaban Adang sungguh mengejutkan.

“Kalau itu, nanti saja ya kalau saya sudah diberi kesempatan untuk menyampaikan visi-misi,” katanya sambil bergegas menuju kendaraannya seusai mengikuti deklarasi Pilkada Damai di Hotel Nikko, beberapa waktu lalu.

Personalitas Ketimbang Isu Publik

Keengganannya itu terang menyulut pertanyaan, mengapa? Setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, tim suksesnya belum merampungkan apa yang disebut Adang sebagai visi-misi-nya. Karena itu Adang riskan untuk berpanjang lebar bicara tentang hal itu. Namun, lagi-lagi, sebenarnya Adang sudah punya slogan yang bisa dielaborasi dengan mudah.

Dalam sebuah blog yang terafiliasi dengan PKS, Adang dan Dani Anwar yang menjadi pasangannya, menertejemahkan perubahan dalam konteks Jakarta dengan slogan “Ayo Benahi Jakarta”. Secara naluriah, Adang bisa menyebut mengatasi macet atau mengurai kemacetan, umpamanya.

Dua isu ini merupakan isu-isu yang selalu dikedepankan warga Jakarta sebagaimana terlihat dari hasil sejumlah survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga yang berbeda. Dari satu survei ke survei yang lain selama setahun terakhir ini, masalah-masalah pengangguran, ekonomi warga (termasuk kemiskinan), lingkungan (polusi, banjir) dan kemacetan selalu menjadi isu yang paling sering disebut.

Diimbuhi fakta PKS sudah kadung dikenal memiliki SDM yang bagus dan ketersediaan akses data ke pemerintahan Jakarta yang kuat, kemungkinan belum rampungnya visi-misi bisa disingkirkan.

Karena itu, kemungkinan kedua, baik Adang maupun tim sukesnya sepertinya enggan memfokuskan kampanyenya pada isu politik. Yakni posisi dirinya terhadap sejumlah masalah kebijakan pembangunan yang dipandang krusial.

Sebaliknya, Adang lebih senang untuk mengeksplorasi kampanyenya dengan isu personalitas.Artinya, Adang berusaha menjual karakter tertentu dari dirinya. Dari aktivitas kampanyenya sejauh ini, ada kesan kuat Adang bermaksud mengedepankan sisi dirinya sebagai “orang yang memiliki empati, kedermawanan dan polisi yang reformis.

Terkait dengan itu, pengedepanan isu personalitas memungkinkan Adang untuk menghindar dari pertarungan terbuka yang frontal dengan Foke, sapaannya Fauzi. Dalam pertarungan terbuka yang frontal, masing-masing pihak berada dalam tekanan untuk memblejeti catatan kelam dari rekam jejak kompetitornya. Jika ini yang terjadi, Adang secara psikologis lebih merasa tersudut. Pasalnya, ada sejumlah pemberitaan media massa yang mudah diplintir untuk mengoyak-oyak kredibilitasnya.

Harus Agresif

Tanpa adanya perbedaan posisi terhadap isu politik, pemilih cenderung akan menganggap keduanya sebagai sama saja. Pada situasi seperti ini, tak terlalu mengejutkan jika kemudian Fauzi mengungguli dirinya. Familiaritasnya yang terbangun melalui reklame anti narkoba dan rekam jejaknya yang panjang di birokrasi menambah panjang daftar keunggulan Fauzi terhadap Adang.

Hasil survei LSI Maret-April 2007 menunjukkan hal itu dengan jelas. Ketika diajukan pertanyaan, Siapa yang akan dipilih kalau pemilihan gubernur diadakan hari ini, 48,9% responden menyebut akan memilih Foke, sedangkan hanya 28,4% yang akan memilih dirinya. Sisanya, 22,7% menjawab belum tahu. Jika dirujuk pada parpol yang menjadi afiliasi responden, terlihat bahwa dirinya hanya memperoleh dukungan yang besar di PKS saja, yakni 49%. Namun, warga PKS yang memilih Foke juga tak kalah besarnya, mencapai 40%.

Dilihat dari sisi berbeda, peraihan Foke yang kurang dari 50% sebenarnya mengisyaratkan peluang Adang untuk menang belum tertutup. Soalnya,kalau dihitung berdasarkan prosentase suara parpol pendukungnya, Foke semestinya memperoleh dukungan sekurang-kuranya 70%.

Dalam posisi sebagai penantang dan menjadi kuda hitam, secara teoritis Adang harus lebih agresif. Tanpa itu, ia bakal benar-benar menjadi pecundang dalam pilkada Agustus 2007 nanti.

Ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, Adang perlu membuat distingsi yang jelas dengan Foke. Ia tak cukup sekadar mengaduk-aduk sisi personalitasnya, tapi juga perlu segera menawarkan beberapa agenda yang menantang kebijakan yang sudah dijalankan pemda Jakarta saat ini.

Tidak pada tempatnya jika Adang berkilah belum waktunya. Jika menunggu masa kampanye resmi yang hanya 3 minggu, niscaya tak banyak yang bisa diperbuat. Karena, sejatinya, pada tahapan itu, aktivitas kampanye lebih diarahkan untuk mengembalikan ingatan publik bukan untuk memperkenalkan atau mendeskripsikannya.

Akan menjadi sebuah kampanye yang menarik jika, umpamanya, Adang mampu memberikan tawaran atau sekurang-kurangnya menunjukkan kekeliruan dari sejumlah konsep dan atau implementasi pembangunan Jakarta selama kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Ada beberapa isu kunci yang bisa dipilih. Ketepatan pilihan membangun jalan tol dalam kota, ketepatan dan akurasi Program Pemberdayaan Masyarakat Kecil yang disalurkan melalui kelurahan, pembangunan monorel dan ketidakberesan pengelolaan busway, merupakan isu kunci yang bisa menohok Foke.

Sekaitan itu, kedua, Adang perlu segera mendefinisikan Foke sebagai bagian dari incumbent. Jika ini bisa dilakukan, maka segala keburukan kinerja pemda bisa dilimpahkan pula ke Foke, tidak sekadar kepada Sutiyoso.

Secara teoritis, pemilih yang memberikan penilaian negatif terhadap kinerja incumbent akan memilih kompetitor sebagai bentuk penghukuman kepada incumbent! Dalam hal ini, Adang semestinya bisa memanfaatkan momen banjir Februari lalu yang telah menenggelamkan lebih dari 70% wilayah Jakarta.

Meski demikian, Adang bukan tanpa masalah. Sodokan soal syariat Islam yang didengung-dengungkan koalisi Foke menjadi isu yang cukup merepotkan. Untuk menangkis ini, PKS sudah menegaskan diri sebagai kaum nasionalis, namun yang bertuhan. Di lain kesempatan, PKS beberapa kali menyatakan, bahwa pertarungan ideologi sudah bukan zamannya.”Musuh kita adalah kemiskinan, “kata seorang petinggi PKS.

Yang kemudian menjadi persoalan, dorongan untuk lebih ke tengah membuat dukungan dari simpatisan dan akar rumput di kalangan internal PKS menjadi berkurang. Ini dibuktikan dari masih besarnya dukungan pemilih PKS di pemilu 2004 yang bakal memilih Foke (40%). Menyadari itulah, Foke akan terus menggebrak Adang dengan isu ini. Memang tak akan keluar dari mulut Foke sendiri, tetapi melalui corong petinggi partai-parta yang mendukungnya, terutama PDIP dan Golkar (ward)

Sumber : http://www.berpolitik.com

Bagikan Tulisan Ini:
Wardoyo, S.I.Kom.

Wardoyo, S.I.Kom.

Ketua PWI Kabupaten Banyuasin - Periode 2025–2028

SK PWI Pusat Nomor: 033/PP-PWI/XI/2025

Wartawan Utama Dewan Pers, Anggota DKP PWI Sumsel, dan pegiat advokasi jurnalisme di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Kompetensi Pers: UKW Utama Dewan Pers
Dewan Kehormatan: DKP PWI Sumatera Selatan
Lihat Semua 320 Tulisan
Profil Penulis

Wardoyo, S.I.Kom. adalah Wartawan Tingkat Utama Dewan Pers dan Ketua PWI Banyuasin Periode 2025–2028. Seluruh tulisan ini merupakan arsip pemikiran dan dedikasi profesional.

Lihat Portofolio & Rekam Jejak

Kontak Pengurus PWI

Pilih kontak WhatsApp pengurus harian di bawah ini

Wardoyo, S.I.Kom
Wardoyo, S.I.Kom

KETUA PWI BANYUASIN

H. Gusra Yetri, SH
H. Gusra Yetri, SH

WAKIL KETUA PWI

Deni Arianto
Deni Arianto

SEKRETARIS PWI

Ridho Andi Sucipto, M.Pd
Ridho Andi Sucipto, M.Pd

BENDAHARA PWI